PENINGKATAN KOMPETENSI ICT DOSEN PAI SELURUH INDONESIA DALAM MENYONGSONG REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Swiss-Belhotel Bogor, 09 Juli 2019

WhatsApp Image 2019-07-22 at 07.11.17 (2) WhatsApp Image 2019-07-22 at 07.11.17

                                                                                              Sejumlah 63 orang Dosen Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum mengikuti kegiatan Peningkatan Kompetensi ICT ( Information Comunication and Technology ) yang di laksanakan di Swiss-Belhotel Kota Bogor sejak tanggal 08-10 Juli 2019. Kegiatan yang diikuti oleh 25 Provinsi, 33 Kabupaten dan Kota ini bertujuan untuk memberikan bekal keterampilan bagi para Dosen PAI di Perguruan Tinggi Umum di bidang Teknologi dan Komunikasi Informasi. Acara tersebut di buka langsung oleh Direktur Pendidikan Agama Islam Republik Indonesia, Rohmat Mulyana Sapdi. Dalam kesempatan ini beliau mengatakan bahwa di Era Revolusi Industri 4.0 ini tidak ada lagi Dosen PAI yang gaptek dengan Teknologi, segala bentuk pembelajaran sudah mengacu kepada sistem aplikasi komputer dan Dosen PAI harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan saat ini. Sistem pembelajaran berbasis Revolusi Industri 4.0 saat ini tengah di sosialisasikan di seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia agar dunia pendidikan tidak tertinggal dari kemajuan pendidikan Negara-negara maju di dunia. Salah satu bentuk capaian yang di fokuskan oleh sistem pembelajaran ini adalah kecanggihan sistem robotik yang diproduksi untuk membantu pekerjaan manusia. Maka, jika Para Dosen ini tidak bisa mengikuti Era Revolusi Industri 4.0, niscaya tenaga pendidik akan tergantikan oleh sistem kerja komputer tersebut.

Rohmat mengatakan, bagaimanapun juga kehadiran Dosen tidak akan tergantikan oleh robot, karena ada value yang harus di ajarkan untuk membentuk sikap, watak, dan akhlak peserta didik dan itu tidak bisa di ajarkan oleh robot. Penguatan karakter Emosional Spiritual Quotient hanya bisa di ajarkan oleh manusia melalui kefiguran yang dimiliki. Salah satu contohnya saat penanaman nilai spiritual di robotkan, maka pendidikan agama akan menjadi kaku, karena tidak ada tanya jawab yang rasional sementara agama Islam bersifat rasional yaitu dapat diterima akal. Peranan inilah yang diharapkan menjadi keterampilan bagi para Dosen PAI di PTU.

Aplikasi nilai beragama memerlukan pemahaman terhadap arti penting nilai tersebut. Selaku Dirjen PAI Kementerian Agama, beliau memaparkan bahwa salah satu arti “NILAI” adalah singkatan dari Norma peristiwa, Identifikasi nilai, Literasi norma, Afiksasi pengalaman dan pemahaman nilai, dan Internalisasi nilai itu sendiri. (1) Norma peristiwa, merupakan salah satu pemahaman terhadap aturan atau norma yang di ambil melalui pengalaman ataupun kisah yang berisi konflik nilai. Dalam hal ini dosen bisa memberikan contoh berupa cerita baik dongeng, kisah pemimpin, ataupun kisah Para Nabi dan Rosul yang mengandung nilai dalam peristiwa kisah tersebut. (2) Identifikasi nilai, setelah dosen memberikan contoh peristiwa mahasiswa diminta menjelaskan nilai apa saja yang terkandung, sehingga terjadi perdebatan argumen yang memunculkan daya fikir dan kepekaan rasa yang dimilikinya. Hal ini bertujuan agar mereka dapat menginterpretasikan nilai-nilai baik yang terkandung di dalamnya. (3) Literasi norma, merupakan aturan/ norma yang menjadi pegangan mahasiswa dalam mengimplementasikan nilai yang telah diperoleh dari contoh peristiwa. (4) Afiksasi pengalaman dan pemahaman nilai, merupakan proses penyerapan nilai ke alam berfikir mahasiswa untuk di aktualisasikan. (5) Internalisasi nilai itu sendiri, merupakan penguatan nilai yang diperoleh dengan melakukan kebaikan serta di aplikasikan dalam kehidupan mahasiswa.

Di hari pertama pelatihan senin, 08 Juli 2019 beliau juga menyampaikan pentingnya critical thingking bagi mahasiswa dalam mempelajari pendidikan agama. Pembelajaran agama harus kritis agar tidak taqlid (beragama tanpa sumber dalil yang jelas, hanya ikut-ikutan saja). Sikap taqlid ini menjadikan mahasiswa mudah terpengaruh dan terprovokasi oleh informasi-informasi yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Peranan dosen PAI adalah melatih critical thingking mahasiswa dalam berfikir, sehingga aplikasi beragama tidak di salah gunakan. Maraknya paham radikal yang beredar di lingkungan kampus saat ini mengundang keprihatinan kita bersama untuk segera di sikapi.

Paham radikalisme yang mulai mewabah di Perguruan Tinggi adalah salah satu penyebab kurangnya critical thingking yang dibangun, sehingga niat dan tujuan mahasiswa menempuh perkuliahan tidak dapat di arahkan dan di kontrol dengan baik. Upaya pemberian pemahaman yang rasional disertai penanaman nilai-nilai agama yang baik dapat mencegah beredarnya paham radikalisme di lingkungan kampus. Dalam Islam di ajarkan, mengamalkan pancasila berarti mengamalkan syariat Islam, dan tidak mengamalkan pancasila sama dengan tidak mengamalkan syariat Islam, hal ini karena nilai-nilai pancasila sesungguhnya terkandung di dalam Al-Qur’an. Maka, bagi umat Muslim yang mengimani Al-Qur’an maka ia harus mengamalkan pancasila.

Sebagai contoh pada sila ke- tiga di sebutkan persatuan indonesia, jauh sebelum pancasila di rumuskan dan ditetapkan, Al-Qur’an sudah memerintahkan manusia untuk hidup rukun dan bersatu, sebagaimana tertuang di dalam surat Al-Hujarat/ 49: 13 bahwa Allah SWT menciptakan laki-laki dan perempuan serta menjadikan mereka hidup berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah agar saling mengenal, yaitu mengenali keanekaragaman yang dimiliki suku dan bangsa tersebut agar menciptakan hidup yang rukun dan damai. Dengan memahami karakter budaya, adat dan paham serta aliran yang berkembang di suatu daerah maka sebagai seorang muslim layaknya dapat menempatkan diri menghargai perbedaan tanpa melewati batas-batas kepercayaan yang dimiliki. Maka inilah yang diperintahkan di dalam Al-Qur’an dan tidak ada sedikitpun yang bertentangan dengan pancasila.

Perlunya Kompetensi ICT ( Information Comunication and Technology ) bagi Dosen PAI di PTU

Teknologi memang penting, tapi akhlak juga penting. Maka, penggunaan teknologi harus di tunjang melalui akhlak dan spiritual yang baik. Salah satu tugas dari Dosen PAI di PTU adalah membangun Spiritual Etical, yaitu etika berspiritual (etika beragama). Spiritual Etical adalah salah satu bagian dari akhlak yang perlu di bina dengan baik, untuk mewujudkan akhlak yang baik penanaman Spiritual Etical perlu dilakukan dengan cara yang tepat,  maka tugas seorang Dosen PAI adalah mewujudkan hal tersebut. Jika akhlak mahasiswa nya baik, maka citra kampus pun akan menjadi baik, juga sebaliknya. Untuk mewujudkan Spiritual Etical yang baik membutuhkan waktu yang panjang, kesabaran dan keikhlasan menjadi kunci utama untuk merealisasikan terwujudnya pembiasaan etika yang baik. Inilah yang menjadi tugas dan tanggung jawab seorang Dosen PAI terhadap mahasiswa yang di bina, bagaimana seorang alumni nantinya bisa menunjukan sikap dan etika yang baik dan bermoral di lingkungan masyarakat dengan berlandasakan agama, pancasila, dan UUD 1945 demi menjaga almamater kampus yang di cintainya.

Revolusi Industri 4.0 mulai membumikan pembelajaran berbasis teknologi digital. Dalam menyampaikan mata kuliah Dosen bisa menggunakan pendekatan Blanded Learning, dimana pertemuan bisa melalui metode Video Telekonference, yaitu antara dosen dan mahasiswa dapat melangsungkan perkuliahan di tempat yang berbeda. Tentu saja metode ini perlu di dukung oleh sarana dan pengetahuan Dosen yang mumpuni. Bapak Uwes A Chaeruman, salah satu Narasumber bidang Pembelajaran Jarak Jauh mengatakan bahwa sebenarnya tidak sulit untuk menerapkan sistem Blanded Learning ini, hanya saja ketika dosen mendengar istilah tersebut sudah terfikir sulit, padahal dalam aplikasinya tidak sesulit yang dipikirkan. Perkuliahan menggunakan metode Telekonference ini membantu para dosen untuk tetap melaksanakan perkuliahan sekalipun berada di luar kota. Terlebih lagi bagi Universitas yang memiliki tenaga Dosen PAI yang sedikit, Dosen dapat melangsungkan perkuliahan melalui daring bersama mahasiswa. Namun yang perlu diketahui bahwa materi-materi perkuliahan yang dapat di daring kan tidak boleh lebih dari 30 % pertemuan. Beliau juga mengatakan, bahwa saat ini di Indonesia ada beberapa kampus besar seperti UI, ITB dan UGM yang mulai memberlakukan kepada mahasiswanya bisa mengambil mata kuliah wajib umum di kampus lain, selama ada MOU dan akreditasi kampus tersebut sudah unggul. Proses pembelajaran tersebut di atur di dalam Permen No. 51 tahun 2018 yang sebelumnya di atur di dalam pasal 103 tahun 2009 tentang pembelajaran jarak jauh. Menurut beliau, “pembelajaran jarak jauh berbeda dengan kelas jauh, jadi tidak boleh disamakan”, ungkapnya.

Sejumlah bantuan penelitian juga di tawarkan kepada segenap peserta yang hadir dan kepada seluruh Dosen PTU lainnya pada umumnya. Sehubungan dengan ini, Bapak Nurul Huda selaku Kasubdit PAI pada PTU menyampaikan bahwa Dosen PAI di PTU harus membuat buku ajar baik buku ajar pokok maupun pendamping akademik karena sudah disediakan dana pengembangan untuk publikasi buku tersebut. Di antara alokasi dana bantuan lainnya seperti program kegiatan kemahasiswaan yang akan dikompetisikan, dana hibah simlitabmas, dan dana bantuan lainnya yang bisa di akses melalui web resmi subdit.pai.ptu@kemenag.go.id. Beliau juga menginginkan kegiatan ini dapat melahirkan rumusan kurikulum PAI di PTU agar dapat dijadikan rujukan bagi para dosen PAI di Perguruan Tinggi Umum se-Indonesia.

Kegiatan yang dilaksanakan tersebut sepenuhnya di biayai oleh Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Subdit PAI pada PTU Direktorat Pendidikan Agama Islam. (reported by. Saefulloh)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*